Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Pada Masa Praaksara

Home  /  Pendidikan  /  Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Pada Masa Praaksara

26.Jul, 2019 Comments Off on Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Pada Masa Praaksara Pendidikan

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Pada Masa Praaksara

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Pada Masa Praaksara

Kata tradisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Adalah Adat Kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih ditunaikan dalam masyarakat; penilaian atau asumsi bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Tradisi di anggap sebagai nilai yang berharga supaya tradisi mampu berfaedah sebagai suatu pedoman yang mengimbuhkan arah kepada kehidupan masyarakat.


Unsur-unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa PraAksara;
a. Sistem Religi
Sistem kepercayaan dalam masyarakat Indonesia diperkirakan menjadi tumbuh terhadap masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini tetap berkembang terhadap masa bercocok tanam hingga masa perundagian. Selain penghormatan terhadap roh nenek moyang, ada termasuk kepercayaan terhadap kapabilitas alam. Kepercayaan ini kiranya ikut ditentukan oleh pengalaman dan ketergantungan mereka terhadap alam. Masyarakat Praaksara gunakan Lima komponen berasal dari sistem religi,antara lain sebagai berikut;

1) Emosi keagamaan
Merupakan pergerakan Keinginan manusia untuk laksanakan sesuatu, khususnya untuk hal yang diakui cocok dengan kepercayaan dan kebenaran yang diyakini mutlak.
2) Sistem keyakinan
Keyakinan manusia merupakan nilai-nilai dan rencana tentang sifat-sifat tuhan, alam gaib, dan juga kekuatan-kekuatan yang melebihi manusia dan diakui kebenaran yang mutlak.
3) Sistem ritus dan upacara
Merupakan tata tingkah laku / sejumlah tahapan yang kudu ditunaikan manusia untuk mengadakan interaksi dengan yang diyakini oleh manusia sebagai kapabilitas yang menyesuaikan dan pilih hidup manusia.
4) Umat agama
Adalah sekelompok orang yang menyakini dan laksanakan ajaran –ajaran agamanya.
5) Peralatan ritus dan upacara
Berupa alat-alat utama yang dipakai terhadap ritus dan upacara dan juga jadi lambang dan rencana religi yang dilambangkanya.

b. Sistem Kemasyarakatan
Ketika manusia hidup bercocok tanam dan jumlahnya makin tambah besar, sistem kemasyarakatan menjadi tumbuh. Gotong-royong dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam merintis kesibukan hidup, seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dan lain-lain.
Demi menjaga hidup dengan yang harmonis, manusia paham perlunya aturan-aturan yang kudu disepakati bersama. Agar aturan ini ditaati, ditentukan seorang pemimpin yang bertugas menanggung terlaksananya kepentingan bersama.
Sistem kemasyarakatan tetap berkembang khususnya terhadap masa perundagian. Pada masa ini sistem kemasyarakatan jadi lebih kompleks. Masyarakat terbagi jadi kelompok-kelompok khusus cocok dengan bidang keahliannya. Uniknya, tugas yang ditangani menyebabkan masing-masing group punya aturan sendiri. Meskipun demikian, senantiasa ada aturan lazim yang menanggung keharmonisan interaksi masing-masing kelompok.

c. Pertanian
Sistem persawahan menjadi dikenal bangsa Indonesia sejak zaman neolitikum, yaitu sejak manusia menetap secara permanen (sedenter). Perkiraan ini terlalu logis mengingat sistem bersawah yang lumayan lama mengharuskan manusia menetap di suatu daerah dengan waktu relatif lama. Kehidupan gotong-royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini.
Semangat gotong-royong dalam sistem persawahan muncul dalam tata pengaturan air dan tanggul. Pada masa perundagian, kapabilitas bersawah makin berkembang mengingat telah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.

d. Kemampuan Berlayar
Kemampuan berlayar telah dimiliki lumayan lama oleh bangsa Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh langkah kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia. Mereka kudu gunakan perahu untuk hingga ke Indonesia.
Kemampuan berlayar ini tetap berkembang di tanah yang baru, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri berasal dari pulau-pulau. Kondisi seperti ini mengharuskan orang gunakan perahu untuk meraih pulau lain.
Perahu bercadik merupakan type yang paling dikenal terhadap zaman dampak Hindu-Buddha. Perahu bercadik dibikin berasal dari sebuah batang pohon besar yang ditebang bersama, kemudian dikupas kulitnya. Kemudian kayu tersebut dibikin rongga dengan langkah pembakaran sedikit sedikit, lantas rongga dan tepian perahu dihaluskan dengan beliung dan kelanjutannya diberi cadik di satu atau ke dua sisinya.
Kemampuan berlayar ini seterusnya jadi dasar berasal dari kapabilitas berdagang. Itulah sebabnya sejak awal Masehi bangsa Indonesia telah menjadi berkiprah dalam jalan perdagangan internasional.

e. Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Sebelum dampak Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu ilmu dan teknologi. Masyarakat telah gunakan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam kesibukan pelayaran dan perdagangan. Juga mengenal ilmu astronomi (ilmu perbintangan) sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Oleh gara-gara itu, mereka telah paham secara tertib waktu bercocok tanam, panen, atau masa yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.
Sejak masa prasejarah, masyarakat Indonesia telah mengenal teknik pengecoran logam. Berbagai peralatan rumah tangga, peralatan untuk mengerjakan sawah atau berladang, peralatan berburu dan lain-lain ditunaikan dengan pengecoran logam.
Masyarakat termasuk telah mengenal teknik pembuatan perahu bercadik. Pembuatan perahu bercadik ini cocok dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri berasal dari beragam pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh lautan. Perahu bercadik itu mampu digunakan sebagai fasilitas transportasi dan fasilitas perdagangan.

f. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi dalam bentuk perlambangan bunyi yang mempunyai arti yang dipahami oleh pemakai bahasa yang sama. Setiap bangsa melahirkan bahasanya masing-masing. Bangsa indonesia masa praaksara mempunyai satu rumpun bahasa yaitu rumpun bahasa Austronesia. Bahasa dalam masyarakat praaksara berfaedah sebagai alat komunikasi, sosial, dan sebagainya.
Daerah Indonesia membentang sepertujuh berasal dari lingkaran ekuator dan terbagi oleh lautan dengan beribu pulau, termasuk terkandung beribu lembah dan daratan. Keadaan seperti ini menyebabkan sejak semula mereka punya sejumlah bahasa dan dialek. Bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia itu termasuk dalam satu rumpun bahasa, yaitu rumpun bahasa Melayu Austronesia atau bahasa Melayu kepulauan Selatan.
Perkembangan bahasa Melayu muncul dengan paham terhadap zaman Kerajaan Sriwijaya. Setelah mendapat dampak berasal dari bahasa Sansekerta, bahasa Melayu jadi bahasa formal atau bahasa prasasti Kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Melayu sukses jadi bahasa pergaulan dalam perdagangan atau jadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Oleh gara-gara itu, bahasa Melayu jadi lingua franca di Nusantara atau lebih dari satu wilayah Asia Tenggara.

g. Organisasi Sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bakal mampu hidup sendiri tanpa group masyarakatnya. Kelompok masyarakat itu lebih dikenal dengan sebutan suku. Hubungan masyarakat dalam suatu group sukunya terlalu erat. Pola kerjasama dalam hidup bergotong-royong dalam suatu group suku telah terjalin dengan baik.
1) Kesatuan keturunan ( genealogis )
Kesatuan ketururan terbentuk gara-gara terikat ikatan darah, pada lain keluaga inti, keluarga besar, dan group keturunan.
2) Kesatuan kedaerahan
Sebuah kesatuan yang terbentuk gara-gara ada ikatan yang serupa gara-gara tinggal di satu daerah yang sama.
3) Kesatuan sosial religius
Terbentuk, gara-gara ada ikatan keagamaan yang sama
4) Kesatuan sosial yang berupa paguyuban / gemeinschaft (dari bahasa jerman)
Terbentuk, gara-gara ada kesetiakawanan sosial yang kompak dan berupa kekeluargaan
5) Kesatuan sosial yang berupa patembayan / gesellschaft
Kesatuaa sosial patembayan terbentuk gara-gara adanya kepentingan yang berupa meminta balas jasa / pamrih.

h. Sistem Mata Pencaharian ( Ekonomi )
Masyarakat terhadap tiap-tiap daerah tidak mampu memenuhi seluruh keperluan hidupnya. Untuk itu, mereka menjalin interaksi perdagangan dengan daerah-daerah lainnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal terhadap waktu itu adalah sistem barter, yaitu pertukaran barang dengan barang.

i. Kesenian
Masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan, telah mengenal sistem kesenian , permohonan untuk mengekspresikan seni atau keindahan ketika manusia menjadi hidup menetap di gua-gua. Ekspresi seni di tuangkan dalam bentuk seni lukisan dengan tempat dinding-dinding gua atau permukaan batu.
Ketika manusia menjadi hidup menetap, ekspresi seni variannya bertambah. Kegiatan seni lukis di indonesia di perkirakan ada sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Bukti tentang hal tersebut ditemukan di Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua;
Cap-cap tangan di dinding gua di Sulawesi Selatan (dengan latar cap merah dan seekor babirusa yang tengah melompat dengan panah menancap dijantungnya.
Di Maluku ditemukan Lukisan dinding Gua dan batu karang berwarna merah dan putih yang wujudnya berupa cap tangan, kadal, manusia mempunyai perisai berwarna merah, dan juga lukisan burung dan perahu berwarna putih.
Di Papua ditemukan lukisan dinding dan karang. Bentuknya beragam ragam, seperti cap tangan, orang, ikan, perahu, binatang melata, dan cap Kaki.
Unsur – unsur peradaban masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan menurut G.Coedes pada lain:
Memelihara ternak
Pengetahuan berlayar
Teknik pelayaran
Sistem kekerabatan matrilineal
Kepercayaan animisme,monoisme,dan pemujaan roh halus,
Organisasi proporsi kerja
Teknik pembuatan barang berasal dari tanah
Kepercayaan terhadap penguasa gunung
Pemakaman (dolmen,kubur batu)
Mitologi pertentangan dua unsur kosmos.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :


Comments are closed.