Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Sudah Bahagiakah Anak Kita?

Home  /  Pendidikan  /  Sudah Bahagiakah Anak Kita?

12.Oct, 2019 Comments Off on Sudah Bahagiakah Anak Kita? Pendidikan

Sudah Bahagiakah Anak Kita?

Sudah Bahagiakah Anak Kita?

Setiap tahun gadget berkembang semakin canggih. Seiring semakin tidak sedikit pemakainya, istilah gadget pun tidak lagi hal yang asing di telinga masyarakat. Gadget ketika ini tidak saja diperuntukkan untuk orang dewasa saja, bahkan anak umur dini juga sudah paling mahir dalam memakai gadget.

Sering kali kita memakai gadget guna hal yang tidak cukup bermanfaat, laksana bermain sosmed atau game online hingga tengah malam. Di samping menimbulkan akibat negatif untuk kesehatan, tidak sedikit yang memandang orang dewasa mempunyai “masa kecil tidak cukup bahagia”. Hal ini diakibatkan saat umur dini, mereka lebih tidak jarang dipaksa guna belajar daripada diserahkan hak bermain.

Sebagai orang tua, anda tidak hendak anak kehilangan hak bermain di umur dini bukan? Pernahkah anda bertanya, apakah anda sudah menyerahkan hak bermain guna anak? Atau sudahkah anak anda menjadi anak yang bahagia? Sering kali orang tua memandang anak bakal bahagia saat sudah tercukupi keinginannya. Seperti melakukan pembelian mainan atau tidak mempedulikan anak bermain gadget tanpa aturan.

Berdasarkan keterangan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima, bahagia ialah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Bahagia di sini tidak saja dalam makna bersenang-senang saja, namun pun ketenteraman dan kenyamanan. Kalau anda mempunyai perasaan yang nyaman dan tidak stress, tentu kita bakal senantiasa senang guna melakukan pekerjaan apa pun.

Begitu pula yang terjadi pada anak. Anak bakal merasa bahagia saat haknya telah terpenuhi. Termasuk hak bermain dan hak menemukan pendidikan. Berikut urusan yang perlu anda pahami supaya anak tidak jarang kali bahagia

Bermain Adalah Dunia Anak
Sudah seharusnya anak umur dini anda beri hak guna bermain, sebab bermain adalahdunia anak. Bukan melulu permainan yang bersangkutan dengan motorik kasar, tapi pun yang sehubungan dengan motorik halus. Seperti yang dilakukan. Anak mengerjakan proses belajar dengan konsep bermain seraya belajar.

Selama 1 jam pertemuan anak dituntun dengan proses belajar yang sepenuhnya menyenangkan, sampai-sampai anak tidak merasa bila ia sedang belajar. Misalnya dengan mengisahkan gambar yang terdapat di kitab cerita seraya memverbalkan kata sederhana.

Dengan begitu, hak bermain dan hak guna mendapatkan edukasi akan terpenuhi untuk anak. Anak akan merasakan proses belajar dengan senang hati tanpa memikirkan masa yang bakal datang. Kalau anak telah merasa senang dan nyaman, dengan kata lain anak telah merasa bahagia mengerjakan proses belajarnya.

Fitrah Anak Sebagai Pembelajar
Sudah menjadi fitrahnya, anak tercetus sebagai seorang pembelajar. Namun, sebab pengaruh lingkungan dan proses belajar yang tidak menyenangkan, menyebabkan anak menjadi malas belajar. Apalagi kemauan orang tua yang tidak jarang kali berorientasi pada keterampilan dan hasil belajar anak. Pengaruh dan kemauan tersebut akan dominan pada anak yang menjadi benci belajar dan tidak bahagia.

Oleh sebab itu, berjuang untuk memenuhi keperluan anak dengan teknik menumbuhkan Minat belajar. Dengan tumbuhnya Minat belajar, anak dapat menggali ilmu di mana pun, tidak melulu dari kitab pelajaran sekolah saja. Minat belajar yang bertambah secara spektakuler akan dominan pada tumbuhnya karakter pembelajar.

Anak umur dini mesti menjadi anak yang bahagia, bukan anak yang pintar. Yuk anda penuhi hak bermain dan hak mendapatkan edukasi pada anak. Dengan mengisi hak anak, anak bakal tumbuh menjadi anak yang senantiasa bahagia.

Sumber : http://www.pennfoster.edu/urm.aspx?source=Q346161&url=https://www.pelajaran.co.id


Comments are closed.