Sejarah Perburuan Paus

Sejarah Perburuan PausSejarah Perburuan Paus

Sejak zaman prasejarah, perburuan ikan paus terdapat di berbagai wilayah. Dengan ukuran tubuh yang raksasa, daging ikan paus menjadi bahan pangan, sementara lemaknya digunakan sebagai bahan bakar. Populasinya terancam ketika perdagangan ikan paus menjadi bisnis menguntungkan di Amerika.

Paus diburu karena beragam manfaat. Lemak dalam tubuh paus sejak abad ke-10 hingga 17 digunakan manusia sebagai bahan baku pembuatan lilin, produk tekstil, dan pelumas mesin. Tulang dan giginya bisa dijadikan sebagai barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti korset, piring, sisir, dan hiasan rumah. Minyaknya digunakan sebagai sumber penerangan yang tak menimbulkan bau dan asap. Tak heran jika sampai 1850 banyak orang di Amerika rela mempertaruhkan nyawa di tengah laut demi mendapatkan ikan paus.

Spesies paus yang paling sering diburu untuk diambil minyaknya yaitu paus sperma (catodon macrocephalus). Paus ini memiliki kandungan zat yang disebut spermatic di kepalanya. Zat inilah yang pada masa itu dijadikan sebagai bahan utama pembuat lilin. Diperkirakan pada abad ke-19 antara 184.000 dan 236.000 paus sperma mati diburu. Nasib mengenaskan dialami ikan paus abu-abu (Eschrichtius robustus) di Atlantik Utara yang dinyatakan punah sejak abad ke-18 –meski tahun lalu spesies ini menampakkan diri di Laut Mediterania.

Di Nusantara, paus sperma pula yang diburu penduduk pulau Lewoleba, Lembata. Satu dokumen anonim Portugis tahun 1624, seperti dikutip lembaga C2O, mencatat penduduk pulau Lewoleba, Lembata, memburu ikan paus dengan tombak. Penduduk juga mengumpulkan dan menjual ambergrisnya (cairan yang dihasilkan dari usus ikan paus, digunakan untuk bahan parfum, meski jarang didapatkan) di Larantuka. Catatan kuno itu mengkonfirmasi eksistensi sejarah lokal perburuan ikan paus yang sudah ada kira-kira dua abad sebelum kemunculan kapal-kapal perburuan ikan paus milik Amerika dan Inggris di kawasan perairan tersebut.

Perburuan ikan paus kian menggila ketika muncul teknik dan peralatan moderen. Pada 1864, Svend Foyn, pria berkebangsaan Norwegia, melengkapi kapal uapnya dengan harpoon, senjata khusus berburu paus biru (Balaenoptera musculus) yang terkenal besar namun gesit dan sulit ditangkap. Penemuan ini menandai bencana bagi populasi paus biru.

Pada 1903, orang Norwegia Christen Christensen menggunakan kapal uap kayu seberat 737 ton berhasil membawa 1.960 barel minyak yang dihasilkan dari tangkapan 57 paus; 40 di antaranya paus biru. Terhitung sejak 1930-1931, setidaknya 29.400 paus biru di Antartika mati diburu. (Sebuah laporan pada 2002 menyebutkan populasi paus biru sangat mengkhawatirkan, yakni 5.000 hingga 12.000 di seluruh dunia. IUCN Red List, daftar status konservasi berbagai jenis makhluk hidup yang dikeluarkan Badan Konservasi Dunia (IUCN), menempatkan paus biru sebagai hewan yang terancam punah.)

Sumber :

https://compatibleone.org/instagram-tambah-fitur-edit-foto-kiriman-di-dm/