Pusara “Kampung Halaman”

Pusara “Kampung Halaman”

Pusara Kampung Halaman
Pusara Kampung Halaman

“Manakala engkau ingat pada mereka yang telah meninggal, anggaplah dirimu termasuk di antara mereka” (Abu Darda’)

Pagi turun seperti biasa, tapi kali ini mendung menggelayut di langit sana. Kabut tipis menjemput saya dan keponakan. Angin bertiup menggoyang pohon-pohon rimbun sepanjang jalan yang terlewati. Jalanan masih sungguh lengang. Ya, setiap pergi ke tempat ini, saya selalu pergi pagi-pagi sekali. Dalam gegas dan semangat

“Salam dulu, Man!” perintah saya pelan.

“Assalamu’alaikum ya ahladdiyaar…” salam itu bergaung, menerobos keheningan sebuah tempat yang pintu gerbangnya selalu saja berderit panjang saat dibuka. Kami menapaki jalanan setapak dengan batu-batu khas yang bersembulan hampir seragam. Rumput-rumput setengah tinggi berembun di sana-sini. Semerbak bunga kamboja sudah pasti ada.

“Bi, kenapa harus memberi salam, kan mereka tidak bisa menjawab” keponakan yang sudah pemuda ini bertanya . Sambil berjalan, saya memberikan jawaban yang saya baca dari bukuAr-Ruh-nya Ibnul Qayyim tentang para penghuni kubur yang berebutan menjawab salam, karena salam bagi mereka adalah doa dan orang-orang yang sudah meninggal sangat bergantung dari doa dan kasih sayang dari orang-orang yang masih hidup.

Kami terus menyusuri jalanan setapak. Penglihatan ini hanya melahap beragam pusara. Berporselen indah, berpualam cantik, berkeramik terlihat lebih banyak bahkan ada yang dibangunkan sebuah rumah di atasnya. Entah apa maksudnya. Padahal yang paling berarti, bukan kondisi megah di atas kuburan tetapi keadaan di bawah tanahnya.

Yang hidup tidak akan pernah tahu apakah di bawah kuburan berpualam itu lapang, terang dan menyenangkan. Kita tak akan paham, kuburan berkeramik indah itu penghuninya merasakan kesempitan, kengerian dan kegelapan mencekam. Siapa tahu yang kuburannya hanya bernisan sederhana adalah mereka yang sungguh beruntung, tidak mengalami siksa pedih alam kubur, berbahagia karena ditemani seseorang berparas mempesona wujud dari amal-amalan yang ia tunaikan selagi di dunia. Kita tidak pernah akan tahu.

Saya tuju sebuah gundukan tanah yang masih saja merah ketika terakhir saya kunjungi beberapa bulan yang lalu. Saya hampiri pusara biasa, tempat di mana seseorang yang sederhana itu beristirahat memenuhi sebuah kodrat. Kuburan Ayah. Terpekur saya di sana, mendiamkan gemuruh hati. Ditemani senyap, saya mengalunkan pinta:

“Ya Allah tidak hanya di tempat ini saya memohonkan ampun untuknya, ampunilah segala dosa-dosanya semasa hidup. Leburkanlah kesalahannya semasa di dunia.

Ya Rahiim, anugerahkan kepadanya tempat tinggal yang jauh lebih indah dari tempat di dunia, terangilah kuburnya dengan benderang cahaya, selamatkanlah ia dari bertubinya siksa kubur

Ya Rabbana, berikanlah balasan untuk Ayah, atas didikannya selalu, jua berikan kepadanya pahala besar atas keikhlasannya mengalirkan kepingan-kepingan nafkah halal untuk hamba

Yang Maha bijaksana, segala hal gangguan yang dinikmatinya karena perilaku ini jadikanlah itu semua penyebab menghilangnya segala dosa.

Yang Maha Perkasa, masukkan ia ke dalam surga Mu.

Allahumma Aamiin.”

Udara tak lagi dingin menggigit, ketika doa itu saya sudahi. Di depan saya, keponakan sudah sejak tadi membersihkan ilalang liar yang tumbuh di pinggiran pusara. Saya mencoba merapikan tanahnya dengan hati tak menentu. Sepenuh rindu, gundah, pasrah dan entah apa lagi.

Pusara Ayah sudah nampak bersih dari sebelumnya. Sudah saatnya berkeliling. Ya, jika mengunjungi ‘kampung’ ini, saya selalu berjalan-jalan melihat semua pusara yang ada. Dan dipastikan selalu ada beberapa kuburan baru. Tadinya baru ada 4 pusara di blok tempat Ayah ‘beristirahat’. Sekarang lebih dari 15. Saya hampir terlonjak membaca nama pada sebuah nisan. Saya dekati nisan itu untuk memastikan. Innalillahi. Teman saya.

Teman dekat semasa kecil. Ketika SD kami sekelas. Dia yang selalu menunggu saya pulang sekolah. Kadang, dia mengajak saya memanjat pohon jambu batunya yang berbuah ranum, padahal teman lainnya tidak pernah ada yang diajak. Suatu hari dia mendatangi saya, matanya berbinar,

“Saya masuk pesantren,” itu kabarnya.

Saat itu saya mencemburuinya, karena oleh ibu, saya diharuskan masuk SMP.

“Nanti saya ingin mengajar di madrasah,” dia menyatakan keinginannya. Selanjutnya saya melihatnya berjilbab rapi dan berkaus kaki.

“Man, kapan mbaknya meninggal?” saya terpaku memandangi tempat tinggalnya yang baru. Siapa sangka kini ia berada di sini.

“Makanya sering pulang,” jawab keponakan. “Kira-kira 2 minggu yang lalu, abis melahirkan,” tambahnya.

Syahid, pikir saya, mudah-mudahan dia beruntung menjumpai Allah. Sejenak saya membayangkan senyumannya, saya mendoakannya dengan tulus. Air mata luruh begitu mudah.

“Bulan ini, dari kampung kita banyak yang sudah pindah kemari lho,” telunjuk keponakan mengarah kepada nisan-nisan baru itu.

Kematian sungguh tidak ada yang dapat memperkirakan, tak memandang usia dan jabatan. Tak memilih kaya atau miskin. Seorang anak kecil tetangga saya menjadi salah seorang di antara mereka para penghuni kubur. Seorang ibu yang selalu segar pergi ke sawah, kini terbaring sendirian di bawah sana. Ada lagi, ayah dari banyak anak dan selalu baik kepada saya, sekarang berada disini, sebuah kampung kesunyian. Di kuburan berikutnya saya mendapati seorang tokoh terkemuka.

Bagaimanakah keadaan kalian saat ini? Mudah-mudahan Allah menerima amal kebaikan yang kalian jadikan bekal selama hidup. Duh, saya juga pasti menyusul.

Ada banyak harapan setiap saya datangi tempat sunyi ini. Mengharap tamparan keras pada hati yang kian berborok legam. Menginginkan kesadaran tentang hidup dan pertanggungjawabannya kelak. Menumbuhkan ingatan, suatu saat saya juga akan berdiam sini. Tertelungkup di liang lahat paling dalam. Seperti pesan Nabi,

“Banyak-banyaklah mengingat penghancur kesenangan dunia, kematian.”

Matahari kian meninggi. Kabut tipis perlahan menghilang. Saya beranjak dari pusara mereka, dan mungkin calon tempat pusara saya kelak.

“Salam lagi, Man…” saya mengingatkannya.

“Assalamu’alaikum ya ahlad diyaar, minal mu’miniina wal mu’minaat. Wa innaa insya Allahu bikum laahiquuna. As-alullaaha lanaa wa la kumul’afiyaat.” Kali ini dia melantunkannya sempurna.

Saya mencoba memahami artinya, “Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung mu’min dan mu’minat. Insya Allah kami pun akan menyusul kalian. Kami mohonkan kepada Allah kesejahteraan bagi kami dan kamu semuanya.”

Pintu gerbang itu ditutup, deritnya sama seperti tadi.

Baca Juga :