Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

Home  /  Pendidikan  /  Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

8.Mar, 2019 Comments Off on Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan Pendidikan

Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

Perkembangan dan Tantangan Awal Kemerdekaan

Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukan titik akhir perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Belanda yang telah ratusan tahun merasakan kekayaan Indonesia enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II merasa memiliki hak atas nasib bangsa Indonesia.
Belanda mencoba masuk kembali ke Indonesia & menancapkan kolonialisme & imperialismenya. Sementara kondisi sosial ekonomi Indonesia masih sangat memprihatinkan, perangkat-perangkat kenegaraan juga baru dibentuk, Indonesia ibarat bayi baru lahir masih lemah, tetapi merdeka adalah harga mati. Berbagai upaya bangsa asing untuk menguasai kembali bangsa Indonesia ditentang dengan berbagai cara. Pertempuran heroik dengan korban ribuan jiwa terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak terhitung dengan jelas berapa jumlah korban jiwa dari pertempuran mempertahankan bangsa Indonesia tersebut, bahkan banyak pahlawan tidak dikenal yang berguguran.

1. Kondisi Awal Indonesia Merdeka

Secara politis keadaan Indonesia pada awal kemerdekaan belum begitu mapan. Ketegangan, kekacauan, dan berbagai insiden masih terus terjadi. Hal ini tidak lain karena masih ada kekuatan asing yang tidak rela kalau Indonesia merdeka. Sebagai contoh rakyat Indonesia masih harus bentrok dengan sisa-sisa kekuatan Jepang. Jepang beralasan bahwa ia diminta oleh Sekutu agar tetap menjaga Indonesia dalam keadaan status quo.
Di samping menghadapi kekuatan Jepang, bangsa Indonesia harus berhadapan dengan tentara Inggris atas nama Sekutu, dan juga NICA (Belanda) yang berhasil datang kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu. Pemerintahan memang telah terbentuk, beberapa alat kelengkapan negara juga sudah tersedia, namun karena baru awal kemerdekaan tentu masih banyak kekurangan. PPKI yang keanggotaannya sudah disempurnakan berhasil mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD dan memilih Presiden-Wakil Presiden. Bahkan untuk menjaga keamanan negara juga telah dibentuk TNI.
Kondisi perekonomian negara masih sangat memprihatinkan, sehingga terjadi inflasi yang cukup berat. Hal ini dipicu karena peredaran mata uang rupiah Jepang yang tak terkendali, sementara nilai tukarnya sangat rendah. Permerintah RI sendiri tidak bisa melarang beredarnya mata uang tersebut, mengingat Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri. Sementara kas pemerintah kosong, waktu itu berlaku tiga jenis mata uang: De Javaesche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda, & mata uang rupiah Jepang.
Bahkan setelah NICA datang ke Indonesia juga memberlakukan mata uang NICA. Kondisi perekonomian ini semakin parah karena adanya blokade yang dilakukan Belanda (NICA). Belanda juga terus memberi tekanan & teror terhadap pemerintah Indonesia. Inilah yang menyebabkan Jakarta semakin kacau, sehingga pada 4 Januari 1946 Ibu Kota RI pindah ke Yogyakarta. Pada 1 Oktober 1946, Indonesia mengeluarkan uang RI yang disebut ORI, uang NICA dinyatakan sebagai alat tukar yang tidak sah.
Struktur kehidupan masyarakat mulai mengalami perubahan, tidak ada lagi diskriminasi. Semua memiliki hak & kewajiban yang sama. Sementara dalam hal pendidikan, pemerintah mulai menyelenggarakan pendidikan yang diselaraskan dengan alam kemerdekaan. Menteri Pendidikan & Pengajaran juga sudah diangkat. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/tabel-sistem-periodik-unsur-kimia-dan-gambar-hd/)

2. Kedatangan Sekutu & Belanda

Penyerahan Jepang kepada Sekutu tanpa syarat pada 14 Agustus 1945 membuat analogi bahwa Sekutu memiliki hak atas kekuasaan Jepang di berbagai wilayah, terutama wilayah yang sebelumnya merupakan jajahan negara-negara yang masuk dalam Sekutu. Belanda adalah salah satu negara yang berada di balik kelompok Sekutu. Setelah Belanda kalah dengan Jepang, mereka melarikan diri ke Australia.
Kemudian,  kondisi Indonesia setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, bagi Sekutu & Belanda, Indonesia dalam masa vacuum of power/kekosongan pemerintahan. Karena itu, logika Belanda adalah kembali berkuasa atas Indonesia seperti sebelum Indonesia direbut Jepang / dengan kata lain, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia. Bagi Sekutu, setelah selesai PD II, maka negara-negara bekas jajahan Jepang merupakan tanggungjawab Sekutu.
Selanjutnya Sekutu memiliki tanggungjawab yakni pelucutan senjata tentara Jepang, memulangkan tentara Jepang, & melakukan normalisasi kondisi bekas jajahan Jepang. Tetapi disamping itu, rakyat Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan keinginan Belanda & Sekutu. Karena itu, dapat diprediksi kejadian berikutnya, yakni pertentangan / konflik antara Indonesia & Sekutu maupun Belanda.
>Dampak kedatangan Sekutu bagi Indonesia
Sekutu masuk ke Indonesia melalui beberapa pintu wilayah Indonesia terutama daerah yang merupakan pusat pemerintahan pendudukan Jepang seperti Jakarta, Semarang, & Surabaya. Setelah PD II, terjadi perundingan Belanda dengan Inggris di London yang menghasilkan Civil Affairs Agreement. Isinya tentang pengaturan penyerahan kembali Indonesia dari pihak Inggris kepada Belanda, khusus yang menyangkut daerah Sumatra, sebagai daerah yang berada di bawah pengawasan SEAC (South East Asia Command).
Di dalam perundingan itu dijelaskan langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut;
  • Fase pertama, tentara Sekutu akan mengadakan operasi militer untuk memulihkan keamanan & ketertiban.
  • Fase kedua, setelah keadaan normal, pejabat-pejabat NICA akan mengambil alih tanggung jawab koloni itu dari pihak Inggris yang mewakili Sekutu.
Setelah diketahui Jepang menyerah pada 15 Agustus1945, maka Belanda mendesak Inggris agar segera mensahkan hasil perundingan itu. Pada 24 Agustus 1945, hasil perundingan tersebut disahkan. Berdasarkan persetujuan Potsdam, isi Civil Affairs Agreement diperluas. Inggris bertanggung jawab untuk seluruh Indonesia termasuk daerah yang berada di bawah pengawasan SWPAC (South West Pasific Areas Command).
Untuk melaksanakan isi Perjanjian Potsdam, maka pihak SWPAC di bawah Lord Louis Mountbatten di Singapura segera mengatur pendaratan tentara Sekutu di Indonesia. Kemudian pada 16 September 1945, wakil Mountbatten, yakni Laksamana Muda WR Patterson dengan menumpang Kapal Cumberland, mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dalam rombongan Patterson ikut serta Van Der Plass seorang Belanda yang mewakili H.J. Van Mook (Pemimpin NICA).
Setelah informasi & persiapan dipandang cukup, maka Louis Mountbatten membentuk pasukan komando khusus yang disebut AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indiers) di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison.
Mereka tergabung di dalam pasukan tentara Inggris yang berkebangsaan India, yang sering disebut sebagai tentara Gurkha. Tugas tentara AFNEI sebagai berikut;
  • Menerima penyerahan kekuasaan tentara Jepang tanpa syarat.
  • Membebaskan para tawanan perang & interniran Sekutu.
  • Melucuti & mengumpulkan orang-orang Jepang untuk dipulangkan ke negerinya.
  • Menegakkan & mempertahankan keadaan damai, menciptakan ketertiban, & keamanan, untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan sipil.
  • Mengumpulkan keterangan tentang penjahat perang untuk kemudian diadili sesuai hukum yang berlaku
Pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI mendarat di Jakarta pada 29 September 1945. Kekuatan pasukan AFNEI dibagi menjadi 3 divisi, yaitu sebagai berikut;
  • Pertama;┬áDivisi India 23 di bawah pimpinan Jenderal DC Hawthorn. Daerah tugasnya di Jawa bagian barat & berpusat di Jakarta.
  • Kedua;┬áDivisi India 5 di bawah komando Jenderal EC Mansergh bertugas di Jawa bagian timur & berpusat di Surabaya.
  • Ketiga; Divisi India 26 di bawah komando Jenderal HM Chambers, bertugas di Sumatra, pusatnya ada di Medan.
Kedatangan tentara Sekutu diboncengi NICA yang akan menegakkan kembali kekuatannya di Indonesia. Hal ini menimbulkan kecurigaan terhadap Sekutu & bersikap anti Belanda.
Sementara Christison sebagai pemimpin AFNEI menyadari bahwa, untuk menjalankan tugasnya tidak mungkin tanpa bantuan pemerintah RI. Oleh sebab itu, Christison bersedia berunding dengan pernerintah RI. Kemudian, Christison pada 1 Oktober 1945 mengeluarkan pernyataan pengakuan secara de facto tentang negara Indonesia.

3. Merdeka atau Mati

Kedatangan Sekutu di Indonesia menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat Indonesia. Apalagi dengan memboncengnya Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Hal ini mengakibatkan berbagai upaya penentangan & perlawanan dari masyarakat.

Comments are closed.