Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Perkembangan Dan Konsep Manajemen

Home  /  Pendidikan  /  Perkembangan Dan Konsep Manajemen

8.Mar, 2019 Comments Off on Perkembangan Dan Konsep Manajemen Pendidikan

Perkembangan Dan Konsep Manajemen

Perkembangan Dan Konsep Manajemen

Perkembangan Dan Konsep Manajemen

Perkembangan Dan Konsep Manajemen

Terdapat 3 mazhab (aliran) manajemen:

1. Mazhab klasik, terbagi menjadi 2:
– manajemen ilmiah
– teori organisasi klasik
2. Mazhab perilaku
3. Mazhab ilmu manajemen

Pendekatan ini berusaha untuk memandang organisasi sebagai sebuah sistem yang menyatu

Dengan maksud tertentu yang terdiri atas bagian bagian yang saling berhubungan. Dan untuk menghubungkan bagian bagiannya dengan organisasi sebagai keseluruhannya, manajer harus berkomunikasi dengan para karyawan serta bagian bagian lain dan juga seringkali dengan wakil dari organisasi lain.

Bagian bagian yang membentuk keseluruhan sistem itu merupakan subsistem yg terdiri dari :
• Sinergi, berarti dengan bekerjasama dan saling berhubungan, bagian-bagian yang saling terpisah di dalam suatu organisasi akan menjadi lebih produktif dibandingkan bila mereka bertindak sendiri sendiri.
• Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup, sistem terbuka: organisasi itu berhubungan dengan lingkungan, dan sistem tertutup bila tidak berhubungan. Semua organisasi hubungan dengan lingkungannya walaupun dengan tingkat berbeda beda.
• Batas Sistem, merupakan batasan yang memisahkan organisasi lingkungannya.
• Arus, sistem memiliki arus informasi, bahan, sinergi, hal ini merupakan barang jadi), dan proses transformasi dalam sistem (bahan baku keluar dr sistem output.
• Umpan balik, merupakan kunci untuk pengendalian sistem, sementara proses dalam sistem berjalan, informasi diumpanbalikan pada orang yang tepat atau komputer sehingga pekerjaan dapat dinilai, dan bila perlu diperbaiki.

Pendekatan Kontingensi

• Tugas manajer menurut pendekatan ini adalah mengidentifikasikan teknik mana yang dalam situasi tertentu, dalam suasana tertentu, dan pada waktu tertentu akan paling baik menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi.
Pendekatan ini berusaha menentukan faktor faktor yang sangat penting bagi suatu tugas, & menjelaskan hubungan fungsional antara faktor faktor yang saling berhubungan.
• Sebagai manajer yang mempelajari pendekatan kontingensi, kita tidak boleh hanya menganalisis suatu masalah tertentu tapi juga hrs memperhatikan bagaimana suatu penyelesaian masalah itu cocok dengan struktur, sumberdaya dan tujuan organisasi secara keseluruhan. Kita juga harus perrtimbangkan kebutuhan pekerja, masalah lingkungan dsb.
• 1. Apabila bawahan yg terdidik dimotivasi oleh kebanggaan atas kemampuannya maka pengayaan kerja akan lebih efektif (job enrichment)
2. Apabila bawahan berpendidikan rendah & kesempatan serta peralatan usaha melatih terbatas, maka penyederhanaan kerja akan lebih baik (work simplification)

Fiedler’s Contingency Theory: Matching Leaders and Tasks

• Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi2 yg spesifik.
• Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami bahwa strategi yg paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
• Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency Approach.
• Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal tsb harus dipertimbangkan.
• Fiedler memprediksi bahwa para pemimpin yang mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih efektif dibanding para pemimpin yang mengutamakan orientasi kepada orang/hubungan baik dengan orang apabila kontrol situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi.
• Sebaliknya para pemimpin yang mengutamakan orientasi kepada orang/hubungan baik dengan orang akan lebih efektif dibanding pemimpin yang mengutamakan orientasi pada tugas apabila kontrol situasinya moderat.
• Fred Fiedler mengusulkan suatu model berdasarkan situasi untuk efektivitas kepemimpinan.
• Dua pengukuran yang digunakan saling bergantian dan ada hubungannya dengan gaya kepemimpinan tersebut menggunakan hubungan kemanusiaan atau gaya yang lunak (lenient) dan gaya yang berorientasi tugas atau ”hard nosed”. Model kepemimpinan kontijensi dari Fiedler ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut: Hubungan pemimpin-anggota; Derajat dan Struktur tugas; Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/ 


Comments are closed.