Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

Home  /  Pendidikan  /  Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

12.Jul, 2019 Comments Off on Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta Pendidikan

Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

Perjuangan Para Pelajar Menempuh Pendidikan di Pulau Terluar Jakarta

Semangat juang penduduk Pulau Sebira untuk menempuh pendidikan patut diacungi jempol. Tidak sedikit peserta didik yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Minimal SMA. Namun, semangat tersebut tak sebanding dengan sarana dan prasarana yang tersedia.

Hanya ada sekolah satu atap di pulau tersebut. Itu juga hanya sampai tingkat SMP. Jika ingin meneruskan pendidikan ke tingkat selanjutnya, para peserta didik harus meninggalkan tempat kelahirannya itu.

“Tidak ada yang putus sekolah. Setelah lulus SMP, mereka melanjutkan ke SMA atau SMK. Sekolah itu berada di Pulau Pramuka atau Jakarta,” kata Kepala Sekolah Satu Atap SDN dan SMP Pulau Harapan 02 Sebira Jamil Fahmi.

Bukan hanya tingkat SMA, banyak juga yang melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Universitas di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan kerap dipilih. Sebab, wilayah tersebut dekat dengan Pulau Sebira. “Kalau pulang kampung, biasa saat libur panjang atau adanya perayaan,” ujar Jamil di rumahnya pada Selasa (16/5).

Kondisi tersebut jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tingkat kesadaran warga terhadap pendidikan meningkat pesat dari tahun ke tahun. Sebab, ada perjuangan para guru di Pulau Sebira.

Jamil masih ingat betul ketika pertama bertugas di Pulau Sebira pada1997. Akses transportasi menuju pulau tersebut sangat sulit. Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke lokasi tujuan ketika cuaca tidak buruk di laut. “Yakni, perjalanan dari Jakarta sampai pulau bisa sampai tiga hari,” ujar pria berusia 42 tahun tersebut.

Ditambah, belum ada sekolah satu atap yang berdiri di lokasi tersebut. Sekolah satu atap baru

beroperasi pada 2005. Sebelumnya, penduduk Sebira bersekolah di luar pulau. Akibatnya, banyak penduduk yang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.

“Di tahun itu, baru ada SD saja. Jadi, mau tidak mau, jika mau melanjutkan sekolah, mereka harus merantau ke pulau lain. Nah, karena masih kecil, banyak orang tua yang tidak tega membiarkan anaknya merantau. Mereka sangat khawatir,’’ papar Jamil.

Kondisi itu membuat hatinya trenyuh. Meskipun tidak menjalani pendidikan formal, mereka harus tetap mendapat pelajaran. Karena itu, Jamil bergerak untuk menggunakan sistem jemput bola.

Jamil menyambangi satu per satu rumah penduduk. Hal itu dilakukannya setiap Kamis malam sampai menjelang salat Isya. Dalam pertemuannya itu, beberapa mata pelajaran dibahas. Paling banyak memberikan pengajaran ilmu agama.

Di sela-sela kegiatan belajar-mengajar, Jamil selalu memberikan motivasi kepada para anak didiknya. Memberikan semangat untuk tetap menuntut ilmu. Jangan sampai semangat tersebut luntur karena terkendala jarak serta sarana dan prasarana. “Pendidikan bisa mengubah nasib kita menjadi lebih baik,’’ paparnya.

Sistem jemput bola tersebut masih dilakukannya hingga saat ini. Kerja kerasnya itu membuahkan hasil. Seiring berjalannya waktu, tingkat kesadaran masyarakat terhadap dunia pendidikan semakin tinggi. Selain itu, ada sekolah satu atap tingkat SD dan SMP walaupun sarana dan prasana masih minim. Meskipun begitu, Jamil tetap bersyukur.

“Kalau melanjutkan SMA di luar pulau, tidak terlalu masalah meskipun berat. Karena mereka sudah

dewasa. Tapi, saya berharap pihak pemerintah bisa mendirikan SMA dan SMK di Pulau Sebira,” ujar Jamil.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Seribu Ade Yulia Narun menyatakan, di Pulau Sebira, SMA sangat mungkin dibangun dinasnya. Namun, pembangunan tersebut tidak dilakukan tahun ini karena ada beberapa faktor. Di antaranya, anggaran biaya pembangunan yang cukup mahal dan murid yang sedikit tidak sebanding dengan guru yang akan diterjunkan.

“Minimal, ada 20 guru SMA. Nah, sekarang siswa lulusan SMP di Pulau Sebira hanya 13 orang. Lebih banyak gurunya. Jadi, tidak sebanding dan akan mubazir nanti,” kata Ade kemarin (19/5).

Karena itu, saat ini, dia fokus menambahkan fasilitas murid di dalam asrama. Misalnya,

menanggung biaya makan para murid dan menambah transportasi. Jadi, para murid bisa belajar dengan tenang dan nyaman. “Jadi, transportasi sudah banyak tersedia. Mereka bisa pulang lebih sering. Kami antar pulang pada Jumat. Kami jemput kembali Minggu,” papar Ade.

 

Sumber :

https://jakarta.storeboard.com/blogs/education/definition-of-text-review-and-examples/965580


Comments are closed.