Pembentukan Readiness Dalam Belajar

  1. Pembentukan Readiness Dalam Belajar

Pembentukan kesiapan dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang besama-sama, yaitu:

  1. Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, ini menyangkut pertumbuhan terhadap kelengkapan pribadi seperti tubuh yang umumnya, alat-alat indra dan kapasitas intelektual.
  2. Motivasi, yang menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan-tujuan individu untuk mempertahankan serta mengembangkan diri. Motivasi berhubungan dengan sistem kebutuhan dalam diri manusia serta tekanan-tekanan lingkungan.
  3. Kematangan sebagai dasar dari pembentukan Readiness. Perubahan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam sistem saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan. Kematangan ialah keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organisme, baik terhadap satu sifat, bahkan seringkali semua sifat (English & English, 1958 : 308).

Kematangan (Maturity) membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu, yang disebut “readiness”. Rediness yang dimaksud yaitu readiness untuk bertingkah laku, baik tingkah laku yang instingtif, maupun tingkah laku yang dipelajari.

Yang dimaksud dengan tingkah laku instingtif yaitu suatu pola tingkah laku yang diwariskan (melalui proses hereditas). Ada 3 ciri tingkah laku instingtif, yaitu :

  1. Tingkah laku instingtif terjadi menurut pola pertumbuhan hereditas.
  2. Tingkah laku instingtif adalah tanpa didahului dengan latihan atau praktek sebelumnya.
  3. Tingkah laku instingtif berulang setiap saat tanpa adanya syarat yang menggerakkannya.

Individu mengalami pertumbuhan materiil jasmaniah bahwa pertumbuhan pada masing-masing individu tidak sama. Perbedaan itu dapat disebabkan oleh pengaruh fisiologis, psikologis dan bahkan sosial. Antara kondisi fisik dan kehidupan sosial terdapat hubungan timbal balik. Superioritas jasmanilah tidak mesti berarti menjadikan superioritas tingkah laku. Sering orang beranggapan, apabila seseorang memiliki kondisi fisik yang menonjol seperti bertubuh gemuk, kuat, cantik atau tampan dan sebagainya dapat menunjukkan pola tingkah laku yang dipuji oleh orang lain.

Pengaruh kondisi jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau pengakuan sosial sangat tergantung kepada :

  1. Pengakuan individu yang bersangkutan terhadap diri sendiri (self concept).
  2. Pengakuan dari orang lain atau kelompoknya. Masing-masing individu mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan fisiknya.

Pandangan Kognitif menurut Vygotsky