Mengapa percakapan video melalui Zoom menguras energi

Mengapa percakapan video melalui Zoom menguras energi

Mengapa percakapan video melalui Zoom menguras energi

Percakapan video memungkinkan kita untuk tetap bekerja dan terhubung dengan sejawat. Namun apa yang membuat aktivitas ini melelahkan? Dan bagaimana cara mengurangi kepenatan rapat melalui aplikasi Zoom?

Gambar pada layar Anda tidak bergerak. Ada gema yang terdengar aneh. Puluhan kepala menatap Anda.

Ada sederet pekerjaan yang menumpuk, pertemuan empat mata, dan ketika Anda menyelesaikan jam kerja, Anda bercengkrama dengan kawan serta keluarga.

Sejak pandemi Covid-19, kita menggunakan telepon video lebih sering dari pada sebelumnya. Banyak orang lelah dengan aktivitas melalui medium ini.

Namun apa yang sebenarnya membuat kita lelah? BBC Worklife bertanya kepada Gianpiero Petriglieri, seorang asisten profesor di Insead yang mengkaji proses belajar dan pengembangan diri di tempat kerja.

Kami juga berbincang dengan Marissa Shuffler, asisten profesor di Clemson University yang mempelajari efektivitas kerja tim dan lingkungan kerja yang sehat.

Banyak dipakai saat WFH, seberapa aman aplikasi Zoom yang kini dilarang Taiwan?
Seks dan kencan saat ‘lockdown’ virus corona
Virus corona: Seniman Banksy ciptakan karya ‘kamar mandi’ di kala ‘lockdown’

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam percakapan video, banyak orang tertekan karena menjadi pusat perhatian.
Apakah percakapan video membutuhkan lebih banyak energi? Apa perbedaannya dengan komunikasi tatap muka?

Petreiglieri berkata, berada dalam percakapan video memerlukan fokus

yang lebih tajam ketimbang percakapan tatap muka.

Percakapan video mengharuskan kita bekerja lebih keras memproses isyarat non-verbal seperti ekspresi wajah, gaya, dan nada bicara, serta bahasa tubuh. Memberi perhatian kepada sejumlah hal tadi menguras banyak energi.

“Pikiran kita terpusat saat tubuh kita tidak siap. Situasi tidak harmonis itu,

yang menyebabkan perasaan campur aduk, sungguh melelahkan. Anda tidak bisa menikmati perbincangan secara natural,” kata Petriglieri.

Diam dalah persoalan lain yang disebut Petriglieri.

“Diam menciptakan ritme natural dalam percakapan langsung. Namun dalam percakapan video, Anda mengkhawatirkan teknologi,” tuturnya.

 

Baca Juga :