Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Kerajaan Banten Islam dari Awal Hingga Masa Keruntuhan

Home  /  Pendidikan  /  Kerajaan Banten Islam dari Awal Hingga Masa Keruntuhan

11.Jan, 2019 Comments Off on Kerajaan Banten Islam dari Awal Hingga Masa Keruntuhan , , Pendidikan

Kerajaan Banten Islam dari Awal Hingga Masa Keruntuhan

Kerajaan Banten, seperti namanya, berada di provinsi Banten. Kerajaan Banten awalnya di bawah kekuasaan Kerajaan Demaka sebelum Banten berhasil melarikan diri ketika ada penurunan dalam sejarah kerajaan Demak.

Pada awalnya, wilayah pajajaran abad ke-14 adalah pusat agama Hindu karena keberadaan kerajaan Pajajaran. Kerajaan Pajajaran juga memiliki basis penting yang mencakup Banten dan Sunda Kelapa.

Kerajaan Pajajaran pada waktu itu menciptakan kemitraan dengan Portugis karena mereka merasa terancam oleh kedekatan kerajaan Islam Demak dan Cirebon. Dari kolaborasi ini, Portugis memperoleh izin untuk mendirikan pusat perbelanjaan dan benteng pelindung di Sunda Kelapa.

Sementara, karena kebalikan dari Portugis, Sultan Trenggono memerintahkan kelompok Fatahilah untuk menyerahkan pangkalan Pangakalan-Pajajaran pada tahun 1526.

Silsilah Kerajaan Islam Banten

Fatahillah berhasil menangkap kelapa Sunda pada 22 Juni 1527. Dari peristiwa ini, nama Sunda Kelapa digantikan dengan nama “Jayakarta atau sekarang dikenal oleh orang-orang sebagai Jakarta, yang berarti kota kemenangan.” peringatan hari jadi Jakarta diperingati setiap bulan Juni.

Dalam waktu singkat, seluruh pantai utara Jawa Barat dapat dikendalikan oleh Fatahillah, sehingga Islam menyebar secara bertahap ke Jawa Barat. Karena layanannya dalam penyebaran Islam, Fatahillah kemudian memperoleh gelar sunan gunung jati di daerah Cirebon dan menjadi salah satu penjaga dari sembilan penjaga.

Pada 1552, putra facehilah, bernama Hasanudin, diangkat menjadi pemimpin di Banten. Putra lainnya bernama Pasarean bernama pemimpin di Cirebon. Dia juga membangun pusat kegiatan Islam di daerah Gunung Jati hingga dia meninggal pada 1568.

Kerajaan Banten adalah salah satu Sejarah Kerajaan Islam Indonesia. Inilah Silsilah Kerajaan Islam Banten:

1. Sultan Hasanuddin

Banten dan Cirebon berhasil menjadi kerajaan berdaulat tanpa campur tangan kerajaan ketika kekuasaan direbut di Kerajaan Demak di Belanda. Sultan Hasanudin, putra Fatahilah, menjadi penguasa pertama kerajaan dan berlangsung selama 18 tahun dari 1552-1570M.

Di bawah kepemimpinannya, kerajaan Banten mampu menguasai Lampung, pembuat rempah-rempah, dan memiliki rute perdagangan sentral, Selat Sunda.

Sultan Hasanuddin berhasil menjadikan Bandar Banten tempat yang ramai dikunjungi oleh para pedagang di Persia, Gujarat, di Venesia selama kepemimpinannya. Para pedagang ini beralih ke Selat Sunda untuk menghindari Selat Malaka, yang saat itu dipimpin oleh Portugis.

Di Selat Sunda banyak pertukaran budaya dan agama telah terjadi, yang mengarah ke pengaruh Islam yang berkembang di kepulauan dan di seluruh dunia. Pada 1570 ia meninggal dan diikuti oleh putranya, maulana yusuf

2. Maulana Yusuf

Generasi selanjutnya dari Kerajaan Islam Banten adalah Maulana Yusuf. Maulana Yusuf adalah putra Sultan Hasanuddin. Dia memerintah Banten setelah kematian ayahnya pada 1570 hingga 1580 Masehi. Pada 1579, Maulana Yusuf berhasil menaklukkan kerajaan Pajajaran ke Pakuan, sementara pada saat itu memindahkan Prabhu Sedah, raja Pajajaran.

Kekalahan Pajajaran membuat masyarakat Pajajaran pindah ke gunung dan mengetahui nama suku Badui di daerah Rangkasbitung Banten.

3. Maulana Muhammad

Sultan Maulana Yusuf kemudian digantikan oleh putranya setelah dia meninggal. Putranya, Maulana Muhammad, memiliki kekuatan pada usia dini, pada usia 9 tahun. Posisi pemerintah diambil alih oleh mangkubmi jayanegara sampai maulana Muhammad tumbuh.

Dia menyerang kesultanan Palembang, dipimpin oleh ki, tentu saja dia berusia 25, karena salah satu darah biru Demak merasa dia berhak atas wilayah Palembang. Namun sayangnya, Banten menderita kekalahan, dan Maulana Muhammad terbunuh dalam serangan itu.

Kerajaan Banten Islam

4. Pangeran Ratu

Pangeran Ratu ditunjuk sebagai garis Islam keempat kerajaan Banten pada usia 5 bulan. Sementara sampai pangeran dewasa, manajemen diambil alih oleh Mangkubumi Ranamanggala. Pangeran Ratu bertahan selama 55 tahun antara 1596 dan 1651.

Pada saat itu, orang Belanda, yang diketuai oleh Cornelis de Houtman, mendarat pada 22 Juni 1596. Pangeran Ratu dijuluki Kanjeng Ratu Banten, kemudian ia meninggal, pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya, yang dijuluki sultan ofengeng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa memegang pangeran matahari ketika dia masih kecil dan dilihat oleh seorang pangeran ratu atau pangeran setelah dinamai sultan muda setelah kematian ayahnya. Ia memimpin Banten pada tahun 1651-1682M dan di tangannya Banten mencapai usia Emasan. Selama pemerintahannya banyak hal dilakukan olehnya.

Dia memperluas wilayahnya pada tahun 1671M, mendirikan sebuah istana baru di Dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang), dan memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda yang pada saat itu menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang membawa kerugian besar kesultanan Banten. Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten pelabuhan terbuka.

Kemuliaan Kerajaan Banten

Kerajaan Banten mencapai zaman keemasan dan puncak kejayaan pada masa pemerintahan sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651 hingga 1682 M. Banten membangun armada menurut model Eropa dan membayar pekerja Eropa.

Banten di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa bisa menjadi pelabuhan perdagangan dan pusat penyebaran Islam. Ini dapat dilakukan karena faktor-faktor termasuk:

  • Posisi ahli strategi yang kuat ada di jalur komersial
  • runtuhnya Malaka di tangan Portugis
  • Banten memiliki lada yang merupakan bahan ekspor yang paling dicari

Penurunan Kerajaan Banten

Sultan Ageng Tirtayasa, perselingkuhan diantra, dan putranya, Sultan Haji, adalah orang-orang yang mundur sampai Kerajaan Banten dihancurkan.

Ada perselisihan antara keduanya sebagai akibat dari perebutan kekuasaan antara Sultan Haji dan sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya. VOC, dengan strategi politiknya, tidak melewatkan situasi ini dan bergabung dengan Sultan Haji.

Baca Juga :


Comments are closed.