Kaum Pesilat Lidah; Asal Musuhnya Bantah Asal Temannya Ibadah

Kaum Pesilat Lidah; Asal Musuhnya Bantah Asal Temannya Ibadah

Kaum Pesilat Lidah Asal Musuhnya Bantah Asal Temannya Ibadah
Kaum Pesilat Lidah Asal Musuhnya Bantah Asal Temannya Ibadah

Ada benarnya kata pepatah “lidah tak bertulang”.

Itulah kiasan yang pas buat orang-orang yang pandai bersilat lidah. Kata-katanya manis yang keluar dari mulutnya. Tapi perilaku dan realitasnya, tidak semanis lidahnya. Anehnya, silat lidah justru jadi gaya hidup dan budaya yang kian digemari. Banyak omong tapi perbuatan nol, itulah silat lidah.
Senang berbantah-bantahan, senang berdalih di balik kepandaian berkata-kata. Bila silat lidah sudah jadi budaya, apa yang bisa diperbuat. Justru silat lidah adalah arena tumbuh suburnya budaya senang menuding, menebar berita bohong, hingga menghujat dan membenci. Karena itu semua. pekerjaan orang-orang pesilat lidah. Selalu saja ada yang harus dibantah. Fakta atau bukan, nyata atau tidak sudah tidak penting. Asalkan masih bisa bersilat lidah, berkata-kata kosong.

Pesilat lidah itu bisa jadi orang bingung. Karena tidak paham, apa yang dibantah dan kenapa harus

dibantah? Bukan apa yang dikerjakan dan kenapa harus dikerjakan?
Drama “silat lidah” bisa jadi tidak akan berkesudahan. Silat lidah itu “pertarungan” yang tak akan pernah usai. Seperti orang-orang di warung kopi, makin banyak berdalih makin asyik. Makin mahir memutar balik fakta, makin keren. Makin banyak berdali dianggap makin pintar. Apalagi di medsos, para tifosi politik pun pandai bersilat lidah. Suguhan silat lidah makin membahana di era yang katanya makin canggih.
Musim hujan tanda musim silat lidah.
Karena pesilat lidah memang sangat pandai menyembunyikan fakta-fakta yang merugikan dirinya. Tapi hebatnya, mereka mampu menonjolkan hal-hal yang menguntungkan dirinya. Selalu ada segudang ’amunisi’ argumen untuk berdalih, untuk memutar balik perkataan. Apalagi terhadap lawan poltik atau orang yang tidak disukainya.

Bukan bersilat lidah namanya. Bila gak punya jurus untuk berkelit untuk berdalih. Semua saran dan

masukan, harus dilawan dengan narasi bukan aksi. Asal musuhnya, apapun harus dibantah. Asal temannya, salah pun jadi benar. Itulah kaum pesilat lidah.
Hati-hati, saat bersilat lidah. Orang yang tahu sedikit pun bertindak seperti tahu banyak. Kerjaannya guru, tapi komentarnya tentang politik.Kerjaannya main medsos, tapi komentarin pemerintahan. Pesilat lidah sering lupa. Apa yang terjadi hari ini adalah hasil dari proses di masa lampau. Aneh bin ajaib, kaum pesilat lidah. Hanya di mata kaum pesilat lidah, bangunan kokoh yang bertengger puluhan tahun pun dengan mudahnya diruntuhkan dalam sekejap.

 

Baca Juga :