Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Jalanya Perang Batak

Home  /  Pendidikan  /  Jalanya Perang Batak

13.Jul, 2019 Comments Off on Jalanya Perang Batak Pendidikan

Jalanya Perang Batak

Jalanya Perang Batak

Jalanya Perang Batak

Jalanya Perang Batak

Puncak  meledaknya perang ini dimana orang

orang dari Si Singa Mangaraja membakar zeding – zeding dan juga membakar rumah – rumah, hal ini juga dipacu oleh pihak Belanda dimana terdengar bahwa pasuka Si Singa Mangaraja XII dengan  batuan Aceh telah siap untuk perang  di Slindung. Sehingga inilah yang menyebabkan Belanda panas dan langsung pergi ke Silindung untuk menyelamatkan rakyat yang beragama Keristen disana[2], masukan pasukan meliter Belanda disambut oleh Si Singa Mangaraja dengan pernyataan perang  maka tahun itu juga meletus perang di Silidung.

1 Februari 1987

 untuk memperkuat pasukan Belanda di Slindung pasukan Belanda diberangkatkan dari Sibolga  dibawah pimpinan Kapten Scheltes  yang terdiri dari 2 opsir, 25 orang prajurit Eropa dan 35 orang Prajurit Pribumi dll. 6 februari mereka sampai di Pea Raja kepala kampung dikumpulkan dan meraka menuu Sipoholong dangan tujuan menduduki Bahal Batu, dalam hal ini rakyat Batak memiliki 2 macam benteng yag sangat sulit ditembus oleh pihak lawan[3].

 

 Bulan februari 1987, ketika

Si Singa Mangaraja megetahui bahwa pasukan Belanda telah sampai di Bahal Batu  ia segera ke Balige untuk mengumpulkan rakyat  dan menyusun kekuatan untuk melawan musuh. 700 orang pasukan Si Singa Mangaraja langsung menyerang kubu – kubu pertahanan musuh. Pihak Belanda melakukan serangan balik  sehingga terjadilah pertempuran yang sengit di Bahal Batu. Namun melihat persenjataan yang berbanding terbalik pihak Si Singa Mangaraja berserta pasukannya mundu, hasilnya Belanda berhasil menduduki tempat tersebut.

            7 maret 1987 Belanda mendapat bantuan dibawah pimpinan FJ Engel  pasukan ini disertai dengan residen Sibolga dan pendeta Nommesen. Pada saat itu pertempuran terus merambat keperdalam Bahal Batu. Pertempuran di Butar pasukan Batak berhasil membunuh seorang tentara Belanda  sehingga belanda mengadakan pembelasan  dengan membakar kampung – kampung yang ada disekitarnya tapi kampung Butar dengan tembok yang tinggi sangat sulit bagi Belanda untuk menerobos jantung kampun tersebut, namun Belanda dapat menerobos kampung tersebut yang diketahui bahwa kampung itu kosong ternyata yang dapat ditawan hanya kepala kampung Butar.

            Pertempuran sengit juga terjadi di kampung Lobu Siregar dan Upu Ni Sirabar yang awalnya sangat susah  diduduki oleh Belanda namun  karea kegigihan Belanda mereka berhasil menduduki kampung tersebut, sedang pasukan Si Singa Mangaraja menarik diri dari tempat tersebut sedangkan kepala kampung ditawan oleh Belanda dan kampung tersebut dibakar. Namun sesudah perang di Lobu dan Upu pihak Belanda kembali ke Sibolga. Sedangkan Si Singa Mangaraja sedang menyusun strategi untuk menyerang pihak belanda kembali. Disaat bersamaan pasukan  Belanda  megepung daerah disekitar Danau Toba  dan menagkap semua kepala kampung yang membangkang. Disaat bersamaan pasukan Si Singa Mangaraja menyerang pos pertahan Belanda  di Bahal Batu. Akan tetapi Belanda berhasil medahuluinya dengan tembakan – tembakan sehingga pasukanya ditarik mundur oleh Si Singa Mangaraja.

            Perhatian Belanda tertuju secara penuh kekampung Bakkara dan Lumbung Raja yaitu tempat tinggal Si Singa Mangaraj. Pertempuran dimulai ketika pihak Belanda meladakan motir kedalam benteng Bakkara dari bukit dimana tempat pasukan Si Singa Mangaraja sehingga pertempuran mulai meletus. Tembankan dari pasukan batak dibalas dengan lemparan granat oleh pasukan Belanda, sehingga pasukan batak kualahan menghadapi Belanda yang berhasil mengepung dari seluruh penjuru walaupun awalnya sangat kesulitan namun  kampung Bakkara dapat diduduki oleh Belanda. Semua orang yanga ada didlamanya menjadi tawanan oleh Belanda.

            Setelah kampung bakkara dapat diduduki oleh belanda pasukan Si Singa Mangaraja  menyingkir menuju Paranginan  untuk mempersiapkan penduduk bagian selatan Danau Toba. Benteng pertahan segera dibuat  di Meat, Balinge, Tambunan dan lagu Boti yaitu tempat panesehat Si Singa Mangaraja XII yaitu Raja Deang. Bulan mei Belanda menuju Paranginan  kemudian bergerak ke Gurgur  dengan maksud menyerang Baligen dan raja Deang. Kemudian menuju  Meat  sesampai disana pasukan Pasukan Belanda dihujati oleh pasukan Batak, karena tempatnya yang tidak cocok pasukan Batak menyerang dari atas sedangkan pasukan belanda dibawah sehingga pasukan Belanda tidak sempat untuk membalaskan dendam, namun pasukan Belanda dapat bantuan sehingga pasukan batak menarik diri dari pertempuran .

            Setelah daerah – daerah  disektar Danau Tobak dikuasai oleh Belanda tahun 1883 pasukan batak sampai di Uluan yang bertepatan dengan tindakan Belanda menempatkan seorang kontrolir di balige termasuk Uluan dan   Lagu Boti. Tindakan Belanda disambut oleh penduduk dengan acuh tak acuh, sehingga membuat kontrolir belanda memintak bantuan sehingga dikirimlah pasukan.

            Si Singa Mangaraja kembali ke Babanan  dan merencanakan segera  gerakan baru di Uluan. Tanggal 18 Juli pasukan Belanda bergerak dari Balige meniju Lagu Boli dibawah Pimpinan Kapten Genet. Berarti pasukan Belanda di Balige berkurang ini kesempatan bagi pasukan Batak untuk menyerang Balige dan mebakar gedung – gedung pertemuan, penjara dan juga membakar gudang kopi. Pihak Belanda membalas perbuatan tersebut dengan cara ultimatun kampung Lagu Boti dan Uluang, menyerahka orang – orang yang dianggap sebagai pembunuh belanda berserta dengan dendanya. Namun orang – orang yang berda dikapung tersebut tidak ma sehingga Belanda menyerang kampung tersebut tanggal 29 juli. Pertempuran demi pertempura membuat psukanbatak kualahan menghadapi pasukan belanda sehingga kampung Huta Dalah akhirnya jatuh dan kepala kampung tewas. Kemudia Huta Anggaris behasil direbut Belanda sedangkan Huta Angin diperkuat sehingga megakibatkan Belanda susah masuk. Untuk memasuki  Huta Angin, Belanda harus mengalahkan terlebih dahulu Huta Ragga Bosi namun pasuka batak mengalir untuk mebantu Huta tersebut dan menghantam pasukan belanda yang mengepung. Pertempuran demi pertempuran yang mengakibatkan pasukan Batak kualahan menghadapi pasukan Belanda ang menyebabkan pasukan Si Singa Mangaraja terbagi dua dan berhasil menguasai Huta Saon Angin.

            Selain perperang di Huta Saon  Angin di Umpu tinggi sedang terjadi perlawan yang sengit   melawan Belanda di Semanangkiang, serang itu dapat dipatahkan oleh Belanda  sedangkan pasukan Si singa Mangaraja terus didesak ke Barat laut Huta Timbang, pada saat itu Huta Timbang telah diduduki oleh Belanda  sehingga terjadi disana pertempuran yang sengit  sehingga Huta ini tidak bisa di amankan dan akhirnya Huta ini jatuh ketangan Belanda.

            Belanda akan menyerang Huta – Huta lainya tetapi cuaca tidak mengizinkan sehingga mereka menuruna niat. Kemudian belanda mengrahkan pasukan ke Huta Tinggi yang Kedua. Scafer dan Spandaw menyerang dari sebelah selatan dan timur tapi  karena benteng ini dibuat dari rajau – ranjau yang sangat menyusahkan bagi pihak belanda untuk menerobos kampung tersebut. Namun ini berhasil diatasi sehingga Belanda dapat meguasai diseluruh penjuru melihat kondisi ini pasukan Si Singa Mangaraja mengakat bendera Putih yang berarti tanda damai.

            30 Juli diadakanlah pertemuan kedua belah pihak, pihak Belanda memintak denda dua kali lipat dari yang diminta  awal, dalam keadaan sulit pihak Belanda tidak menuntut dalam bentuk uang tetapi apa saja barang – barang asal dapat dibayar. Perperang diundur untuk sementara . pembayaran ini dibatasi 1 Agustus, tetapi Huta Datu Hari  tidak mau membayar sehingga terjadilah penyerangan oleh pihak Belanda, sama dengan Huta – huta lainya sangat sulit ditrobos dengan berhasilnya Belanda menduduki Huta Datu hari maka seluruh wilayah Lagu Boli telah diduduki oleh Belanda.

            Daerah yang belum dikuasai oleh belanda  masih memihak kepada Si Singa Mangaraja  yaitu daerah Naga Seribu, Muara Bakkara, tangga Batu, dan Paraginan. Sehingga pasukan Belanda terus – menerus melakukan perlawanan. Tanggal 7 Agustus Tangga Batu dapat diduduki oleh Belanda, 9 Agustus Paraginan diduduki oleh Belanda dan kepala kampungnya dikenakan denda, sedang bakkara menolah sehingga 6 Huta disekitarnya dibakar oleh pihak Belanda.  Tanggal 25 agustus pejuang – pejuang Batak melakukan penyerangan terhadap Belanda dimalam hari dan menyatakan perag kepada pihak Belanda di Semnangkiang.

            Daerah Si Torang sudah mulai terancam, pada tanggal 27 Agustus pasukan Belanda bergerak menuju Pintu Batu disebuah padang lalang mereka diserang oleh 80 orang pejuang Batak dari Si Toramg, sedangkan dari sisi lain pihak Belanda juga diserang oleh penduduk Belanda. Serag ini berhasil dipatahkan dengan tembakan antileri, senapan dan penghancur dengan mitraliur dan infanteri. Huta Boksa dapat diduduki seterusnya Belanda menyerbu Prabu Angin  dalam usaha menjatuhkan Si Torang, denga berapa taktik Perabu Angin dapat dikuasai oleh belanda demikian juha Si Jarot pusat dari kampung Si Torang. Patigi dan Si Ria – Ria diduduki Belanda 1 September sesudah itu Pos Belanda kembali ke pertahanan Lagu Bot, sedangkan Si Singan Mangaraja mengadakan perlawanan didaerah lain.

            Perperang dari tahun –  ketahun semakin menjadi. Tahun 1887 timbul perlawanan dari Kota Tuo dengan bantuan pejuang – pejuang Aceh yang datang dari daerah Bebas di Trumor. Perlawana ini dapat dipatahkan oleh Belanda dibawah pimpinan JA Visser. Selain itu tahun ini juga terjadi penyerbuah dibawah pimpinan Sarbut, pos – pos zeding dibakar karena peristiwa ini Lobu Si Reger diduduki oleh Belanda. Dipihak lain Belanda semakin membabi buta  dngan membakar kampung – kampung yang menolak mebayar denda. Pada saat yang bersamaan Hindia Belanda juga melawan Aceh sehingga Belanda menfokuskan diri untuk menghadapi Aceh yang kekuatanya jauh lebih besar sedangkan perlawan terhadap tanah  Batak dikurangi oleh Belanda.

            Pada saat Belanda lenga Si Singa Mangaraja menghimpun pasukan untuk kekuatanya. Tahun 1889 ia aktif didaerah bagian tenggara dan Barat Danau Toba  serta Pulau Simosir. Bulan Mei Si Singa Mangaraja di daerah Huta Paong siap untuk menyerang Belanda    bersamaan 90 pejuang batak, 70 orang letnal Pitlo, bulan Juli pertempuran mulai meletus. Walaupun terdesak ke Lobu Tala kemudian 8 Agustus pasukan Si Singa Mangaraja mengadakan serangan balasan dan berhasil menewaskan seprang pasukan Belanda dan mengusir mereka dari sana. Untuk mebalaskan serangan dari Si Singa Mangaraja Belanda mengirim tentara dari Padang.

Perlawanan demi perlawanan yang terjadi antara Pasukan Si Singa Mangaraja dengan Belanda membuat pejuang Batak kaulahan menghadapi Belanda, sampai Simosir juga diduduki oleh Belanda, sehingga gerak Si Singa Mangaraja semakn sempit menginggat daerah kebayakan sudah jatuh ketangan Belanda. Sekarang pasukan Si Singa Mangaraja bertahan di sebelah barat Danau Toba yaitu Pak – Pak dan Dairi.

Baca Juga : 


Comments are closed.