Euthanasia menurut Landasan Teologis.

Euthanasia menurut Landasan Teologis.

Allah menciptakan manusia dengan penuh kasih. Ia memberikan kehidupan kepada ciptaan-Nya terutama manusia. Hal ini menunjukkan bahwa hidup manusia merupakan anugerah Allah yang sungguh besar, Allah tidak mengharapkan umatnya mengalami kematian dan penderitaan. Hal ini berarti bahwa kita memperoleh hidup abadi dengan perseturuan dengan Allah. Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup (Keluaran 2:23-4 ::17).
Menurut ajaran Agama Kristen, nyawa manusia merupakan pemberian langsung dari Allah. Oleh karena itu, tindakan apapun yang bertujuan untuk menghilangkan nyawa manusia dengan alas an apapun sangat ditentang. Didalam Alkitab pun dengan jelas bahwa ada larangan “jangan membunuh” (Keluaran 20: 13) dan “kematian adalah hak Tuhan” (Ulangan 32:29; Ayub 1:21; Ibrani 9:27).
Beriman kepada Allah berarti mengikut Dia dan menerima salib bukan lari dari sebuah kenyataan. Euthanasia aktif langsung yang terjadi atas kehendak pasien atau pihak keluarganya merupakan tanda bahwa manusia melarikan diri dari kenyataan dan menghindari diri dari penderitaan dan salib. Tindakan tersebut merupakan tindakan keputusasaan manusia pada kenyataan hidup karena tidak ada lagi pengharapan akan kasih Allah untuk memperoleh kehidupan yang akan datang.

5. Eutanasia menurut hukum di berbagai negara

Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark.
a. Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eutanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.
Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.
Sebuah karangan berjudul “The Slippery Slope of Dutch Euthanasia” dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.
b. Australia
Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut “Right of the terminally ill bill” (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

 

Sumber: https://newsinfilm.com/