EKSPOR KAKAO TERHADAP EKSPOR INDONESIA

EKSPOR KAKAO TERHADAP EKSPOR INDONESIA

EKSPOR KAKAO TERHADAP EKSPOR INDONESIA

Komoditas ekspor kakao selama sepuluh tahun terakhir ternyata kontribusi terhadap total ekspor nasional masih kecil yaitu rata-rata sebesar 1,04 persen. Tercatat nilai ekspor kakao tahun 2011 mencapai US$ 1,3 milyar. Namun, sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2011, kakao terus mengalami peningkatan sharenya terhadap ekspor nasional. Rata-rata sharenya terhadap ekspor nasional adalah sebesar 1 persen. Untuk tahun 2011 kontribusi terhadap ekspor nasional sebesar 1,04 persen. Dan ke depan kontribusi ini dapat ditingkatkan bila daya saing komoditas ini juga ditingkatkan demikian juga pengembangan produk dan peningkatan nilai tambah produk-produk kakao.

EKSPOR KAKAO DAN IMPOR INDONESIA

            Negara tujuan utama ekspor kakao dari Indonesia adalah Malaysia, Singapura, Amerika, China dan Brazil yang menguasai sebesar 93,1 persen. Komoditi yang diekspor dari Indonesia lebih banyak berupa cocoa beans, whole or broken, raw or roasted untuk diolah di negara tujuan menjadi produk cokelat olahan. Biji kakao Indonesia memiliki keunggulan melting point Cocoa Butter yang tinggi, serta tidak mengandung pestisida dibanding biji kakao dari Ghana maupun Pantai Gading. Nilai ekspor komoditas kakao sepuluh tahun terakhir yaitu dari 2002 sampai dengan 2011, terus mengalami peningkatan. Walaupun nilai impor juga terus mengalami peningkatan. Sebagaimana terlihat pada Tabel 1 sebagai berikut :

            Selama sepuluh tahun rata-rata ekspor kakao dari Indonesia sebesar hampir US$ 999,6 juta sedangkan rata-rata impor sepersepuluh nilai ekspor yaitu US$ 105 juta. Pada tahun 2011 nilai ekspor kakao Indonesia terjadi penurunan. Tercatat juga bahwa total nilai ekspor dunia juga mengalami penurunan dari tahun 2010 cukup besar. Hal ini terjadi karena permintaan negara-negara Eropa menurun sebagai akibat krisis ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini juga berimbas pada permintaan negara-negara lainnya sebagai mitra dagang Eropa seperti China. Dengan menurunnya permintaan dari China maka berarti menurun pula permintaan kakao dari Indonesia. Untuk tahun 2011 nilai ekspor kakao Malaysia lebih tinggi dibanding nilai ekspor kakao Indonesia.

            Nilai ekspor kakao terbesar masih dikuasai oleh negara Pantai Gading dan Ghana. Pada umumnya ekspor kakao negara-negara ini sudah melalui fermentasi sehingga harganya lebih tinggi dibanding dengan yang belum difermentasi. Artinya kualitas ekspor kakao Indonesia perlu ditingkatkan guna meningkatkan nilai tambah ekspor, salah satunya melalui fermentasi. Diperkirakan bila melalui fermentasi nilai tambah ekspor kakao perkg bertambah Rp 3000. Saat ini di dalam negeri harga kakao berkisar antara Rp 15.000 perkg sampai dengan Rp 24.000 perkg.

            Hambatan ekspor saat ini yang banyak dikeluhkan para petani kakao adalah diterapkannya Bea Keluar. Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) menyantumkan tarif bea keluar ekspor biji kakao bila harga 2.000-2.750 dollar AS per ton dikenai pajak 5 persen. Untuk harga 2.750-3.500 dollar AS per ton, dikenai pajak 10 persen, sedangkan harga diatas 3.500 dollar AS per ton maka 16  bea keluarnya 15 persen. Harga ekspor ini disesuaikan dengan fluktuasi tarif internasional dari bursa berjangka di New York.

DAYA SAING KAKAO DI INDONESIA

            Menurut Buku Tarif Bea Masuk Indonesia/Harmonized System (HS) 2 digit maka kakao bernomor HS 18. Komoditas ini merupakan komoditas unggulan Indonesia yang mempunyai daya saing cukup bagus karena memiliki RCA lebih besar dari satu.

            Sepuluh tahun terakhir keunggulan komparasi kakao Indonesia rata-rata diatas 4, yang berarti daya saing ekspor kakao Indonesia cukup bagus. Namun tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 2,75 yang hampir sama dengan RCA Malaysia yang sebesar 2,52. RCA Indonesia dan Malaysia ini sangat jauh dengan RCA negara Pantai Gading yang menguasai pasar dunia ataupun dengan Ghana. Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2, sebagai berikut :

INDEKS SPESIALIS PERDAGANGAN KAKAO INDONESIA

            Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) merupakan indeks yang digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan komoditas kakao Indonesia. Indeks ini dapat memberi gambaran apakah spesialisasi Indonesia sebagai negara importir ataukah eksportir kakao. Demikian juga Indeks Konsentrasi Pasar (IKP) atau Hirschman Herfindahl Index (HHI) memberikan gambaran kerentanan ekspor kakao ke negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Malaysia, Singapura, China, Amerika dan Perancis.

            Pada Tabel 3, Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) Indonesia menunjukkan rata-rata di atas 0,80 dan tahun 2011 sebesar 0,77. Hal ini mengindikasikan bahwa spesialisasi Indonesia masih sebagai negara eksportir kakao. Bila dibandingkan ISP negara Pantai Gading dan Ghana sangatlah jauh. Negara ini merupakan eksportir utama dunia sehingga Pantai Gading ISPnya 1. Demikian juga Ghana mendekati 1 atau 0,99.


Sumber: https://appbrain.co.id/