Call Us:+1-888-888-888
Background Image

Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

Home  /  Pendidikan  /  Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

5.Jul, 2019 Comments Off on Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA Pendidikan

Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA

Para siswa di tingkat SD hingga SMA bakal punya dua rapor. Selain rapor akademik, peserta didik memperoleh rapor khusus untuk penilaian kesehatan. Kesehatan para siswa bakal terpantau secara berkala.

Pada Selasa (5/9) sebanyak 25 ribu eksemplar buku rapor kesehatan dibagikan ke sejumlah sekolah. Ada dua jenis buku. Yakni, buku catatan kesehatan dan informasi kesehatan. Masing-masing punya fungsi yang berbeda.

Di buku catatan kesehatan, terdapat beberapa penilaian. Misalnya, riwayat kesehatan anak. Para

siswa ditanya seputar riwayat kejang hingga kelainan bawaan yang pernah dialami. Termasuk riwayat kesehatan keluarga. Baik penyakit menular maupun tidak menular.
Di Kota Ini Bagikan 25 Ribu Rapor Kesehatan Siswa Tingkat SD–SMA
Isi Buku Catatan Kesehatan dan Isi Buku Informasi Kesehatan (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Berbeda dengan buku informasi kesehatan. Buku tersebut menjelaskan tentang berbagai risiko kesehatan yang bisa dialami anak-anak sampai remaja. Di antaranya, kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) dr Ummi Khoiroh menjelaskan, buku catatan kesehatan dipakai untuk memantau status kesehatan siswa. Fungsinya seperti buku kesehatan ibu dan anak (KIA) pada ibu hamil. ”Buku informasi kesehatan untuk konseling dan edukasi,” paparnya Senin (4/9).

Ummi mengungkapkan, buku tersebut didistribusikan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

untuk diuji coba. Karena itu, jumlahnya terbatas. Hanya ada beberapa sekolah yang mendapat jatah buku tersebut. Khususnya sekolah yang berprestasi di bidang kesehatan dan yang punya UKS aktif.

Setelah program itu berjalan, seluruh sekolah mendapat buku rapor kesehatan. Buku tersebut diyakini bisa menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI-AKB) dari hulu.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat dr Yeni Kurniawati mengungkapkan, buku itu bisa memantau kesehatan reproduksi siswa sejak dini. Khususnya bagi siswa putri. ”Jika ada masalah, bisa segera ditangani,” terangnya.

Yeni mencontohkan kasus anemia. Murid perempuan kerap mengalami masalah kekurangan darah.

Terutama bagi murid yang memasuki usia pubertas dan sudah menstruasi. Hal itu bisa meningkatkan risiko pendarahan ketika hamil nanti. ”Karena itu, pemantauan sejak dini perlu dilakukan,” jelasnya.

Ummi menambahkan, pencatatan dilakukan oleh guru UKS bersama petugas puskesmas. Hasil penilaian berupa status kesehatan. Petugas puskesmas atau guru UKS harus menindaklanjuti hasil nilai pada rapor kesehatan siswa. ”Nanti tindakan diberikan berdasar rekomendasi,” tandas alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu.

 

Sumber :

http://www.pearltrees.com/danuaji88/item261349768


Comments are closed.