Begini strategi TikTok agar tak dianggap “alay”

Begini strategi TikTok agar tak dianggap “alay”

Begini strategi TikTok agar tak dianggap alay

Sebagian orang menganggap jika TikTok merupakan aplikasi “alay” lantaran yang menggunakan rata-rata remaja tanggung dengan konten berupa video lipsync ataupun dubbing. Padahal, platform ini bisa juga digunakan untuk hal lain seperti promosi.

Dina Bhirawa, Head of Marketing TikTok Indonesia mengatakan pihaknya

sedang gencar mengkampanyekan bahwa TikTok tidak hanya untuk membuat video iseng-iseng. TikTok juga bisa berfungsi sebagai sarana yang mengedukasi sekaligus menyebarkan informasi.

“Kita pernah kerjasama dengan Smart City. Kita edukasi pemerintah bagaimana caranya menggunakan TikTok di kota mereka. Mereka harus mencoba menemukan cara baru buat promo kota mereka. Karena anak sekarang enggak baca koran. Salah satu caranya kita bikin video tentang kota Palembang. Kita bikin dengan cara milenial,” ujar Dina dalam peluncuran “TikTok Year in Rewind 2018” di Jakarta, Senin.

Selain itu, TikTok juga menjalin kerjasama dengan para selebriti dan influencer

untuk mempromosikan yang terbaru dari mereka, salah satunya adalah Agnez Mo. Ia merilis lagu “Overdose” melalui TikTok.

“Bukan lagi di radio-radio serentak, tapi di TikTok. Di TikTok lebih bisa berinteraksi, kalau di radio kan cuma mendengarkan. Kalau di TikTok bisa sambil dance bareng, ada komunikasi yang terjadi dua arah. Agnez kemarin pun sangat senang karena bisa melihat langsung reaksi penggemar,” jelas Dina.

Dina mengaku ingin TikTok lebih bermanfaat untuk masyarakat sehingga

nantinya tidak lagi dipandang sebagai aplikasi ‘alay’ dan sebelah mata.

“Tiktok ingin memberikan arahan bagaimana menggunakan konten yang baik. Agar yang punya TikTok memiliki kewajiban untuk memberikan yang baik agar mendatangkan manfaat,” kata Dina.

 

Baca Juga :