Aspek-Aspek Tradisional

Aspek-Aspek Tradisional

Aspek-Aspek Tradisional

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam kehidupan tradisional masih cenderung memegang teguh suatu tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat sebagai transformasi terhadap nilai-nilai yang dianggap sesuai. Proses tranformasi terhadap nilai-nilai yang ada ini dapat diwujudkan dalam segala aspek/ bidang yang meliputi: bidang ekonomi, mata pencaharian, budaya, politik, sosial, maupun teknologi.


  • Bidang Ekonomi dan Contohnya

Dalam bidang ekonomi tradisional, uang dirasa tidak begitu penting.Meski mereka juga membutuhkan uang dalam memenuhi kebutuhannya, mereka tidak antusias untuk mendapatkan uang.


Investasi uang secara berlebih biasanya dengan menggunakan cara investasi dalam bentuk perhiasan. Pola berbelanjaan tradisional adalah dengan berbelanja setiap hari, karena penghasilan yang didapat setiap harinya pun tidak begitu besar.Meski demikian, ekonomi tradisional ini biasanya semakin mengentalkan kesederhanaannya dengan adanya ucapan syukur dengan hidup.


  • Bidang Mata Pencaharian dan Contohnya

Mata pencaharian kehidupan tradisional sangatlah tidak menentu. Hal ini dikarenakan  tradisional masih banyak yang tidak mengenal adanya spesialisasi kerja pada konsep secara tradisional. Sehingga berpengaruh terhadap penghasilan yang tidak tetap yang tidak bisa selalu diharapkan setiap saat.Maka, taraf hidupnya pun masih sangat rendah sekali.Contoh : Petani, nelayan.


  • Bidang Budaya dan Contohnya (tata kehidupan, pola kultur dan karakteristiknya)

Tata kehidupan tradisional secara geografis sebagian besar terdapat pada daerah  pedalaman yang jauh dari keramaian kota yang meliputi corak atau pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan sekelompok orang, secara fisik, tata kehidupannya selalu diwarnai dengan kehijauan alamnya, dan dianggap  sebagai tempat yang masih memegang nilai-nilai adat dan budaya atau kepercayaan yang bersifat khusus atau unik pada suatu kelompok tertentu.


Pada tata kehidupan tradisional, kebudayaan yang terlihat misalnya dari bentuk bangunan tradisional yang biasanya diterapkan pembangunannya melalui rumah tradisional  atau rumah adat yang dibangun dengan cara yang sama oleh beberapa generasi.


Berlatar belakang religi, baik secara konsep, pelaksanaan pembangunannya maupun wujud bangunannya, misalnya adanya upacara pemasangan tiang pertama, selamatan/ kenduri, penentuan waktu yang tepat, arah hadap rumah, bahan bangunan yang digunakan dan sebagainya yang dipercaya bisa membawa pengaruh terhadap kehidupan penghuninya, menyangkut keselamatan, kabahagiaan, kemujuran, rejeki dan lain sebagainya .


Pola kultur tradisional cenderung kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama yang merupakan suatu aturan yang sudah sesuai dan mencakup segala konsepsi sistem budaya dalam mengatur tindakan atau perbuatan dalam kehidupan sosialnya. Jadi, pola kultur tradisional di dalam melangsungkan kehidupan berdasarkan pada cara atau kebiasaan lama yang masih diwarisi dari para pendahulu dan tidak mengalami perubahan mendasar karena peranan adat-istiadat sangat kuat menguasai pola kultur tradisional.


  • Bidang Politik dan Contohnya

Manusia sederhana (tradisional) masih bersikap untuk berpikir secara massif (pola pikir yang tidak objektif dan rasional) untuk menganalisis, menilai dan menghubungkan suatu gejala dengan gejala yang lain. Manusia yang hidup tradisional (sederhana) biasanya masih ditandai dengan sikap berpikir analogis dengan mengadakan generalisasi, penggunaan waktu secara subjektif serta kurang mengenal waktu secara fisik. Manusia tradisional menimbang segala-galanya dengan prinsip-prinsip yang telah baku, mereka cenderung untuk berubah sangat lambat. Politik tradisional  masih sangat sedikit peminatnya, karena lemahnya daya kritis manusia tradisional terhadap politik. Contoh: golput pada pemilu daerah atau pemilu presiden.


Baca Juga :