Alternatif Sistem Pendidikan Islam di Indoonesia

 Alternatif Sistem Pendidikan Islam di Indoonesia

Ada dua bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari kalangan ahli pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk – bentuk itu hampir pasti mendukung usaha pendidikan agama Islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu mempengaruhi orang untuk beragama Islam dan atau meningkatkan keislaman seseorang. Bentuk – bentuk yang dimaksud adalah pesantren kilat dan perguruan silat tenaga dalam.

  1. Pesantren Kilat

Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang Islam di Indoneisa. Itu adalah nama lembaga pendidikan islam yang paling tua di Indonesia. Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di Departemen Agama Pusat mengirimkan anaknya ke Pesantren Gontor bila datang saat libur sekolah. Di sana mereka mondok dan belajar agama, dari itulah mungkin asal-usul pesantren kilat. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota Bandung banyak sekali orang yang menyelenggarakan pesantren kilat. Menjelang libur orang mengedarkan pengumuman, bahwa akan dibuka pesantren kilat yang umumnya diadakan di masjid maupun pesantren. Lamanya berkisar dari 7 sampai 30 hari. Di sana diajarkan tentang agama Islam seperti membaca al-Qur’an, keimanan islam, fiqih, akhlak  dan lain sebagainya.

Peserta itu dibagi menurut tingkat kemampuannya, mulai dari kelompok pemula yang belajar membaca al-Qur’an dan amalan agama sehari-hari sampai kelompok lanjutan yang belajar membaca kitab kuning dan diskusi masalah-masalah Islam yang kontemporer.

Dari berbagai penelitian dapat diketahui motif orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat, yaitu :

  1. Agar anaknya tidak nakal. Orang tua sekarang khawatir sekali terhadap perkembangan akhlak anaknya. Sudah banyak gejala kenakalan anak remaja, misalnya sering berkelahi, nongkrong, minum-minuman keras, kenakalan seksual, menggunakan narkotika bahkan sampai berujung pada tindakan-tindakan kejahatan.
  2. Motif mengisi waktu. Orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat dengan maksud mengisi waktu luang (karena libur), karena waktu luang bagi anak dan remaja adalah waktu yang amat berbahaya bila tidak diisi dengan atau dialihkan kepada kegiatan positif.
  3. Menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah. Orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat karena merasa pendidikan agama Islam yang diperoleh anaknya di sekolah masih kurang. Nyatanya, murid-murid pada umumnya banyak paham, lebih sedikit amal, boleh dikatakan kosong dalam iman. Rasa beragama kurang sekali dibina oleh guru-guru di sekolah, mereka mati-matian membina pemahaman dan sedikit membina pengalaman[14].

https://bobhenneman.info/crossworlds-apk/